Jumat, 23 Juni 2017

Hati-Hati Budaya Kuliner


Oleh: Ust. Budi Ashari

Kuliner istilah baru. Ia pun baru sebagai sebuah kebiasaan masyarakat. Sehingga bertaburan pojok-pojok jajanan hingga cafe tempat hang out dengan teman-teman dan keluarga.

Terus mengapa harus berhati-hati. Di mana masalahnya? Bukankah justru bisa menambah akrab anggota keluarga. Bahkan ajang pendekatan bagi ayah yang super sibuk dengan anak dan istri yang mulai merasa terdzalimi karena tidak mendapatkan hak waktu mereka.

Saya jawab ya. Banyak manfaat yang bisa diambil oleh keluarga. Bukan hanya itu. Menghilangkan sekadar kejenuhan adalah hal yang penting. Karena rutinitas yang membosankan membuat suram suasana rumah.

Saya pun tidak melarang dan memang tidak boleh melarang sesuatu yang halal.

Tetapi saya di sini hanya mengingatkan bahaya kuliner jika dijadikan budaya. Apa arti budaya di sini? Yaitu ketika anggota keluarga mewajibkannya. Ah… rasanya tidak ada keluarga yang mewajibkan.

Eittt... tunggu dulu. Kalau dalam satu pekan wajib keluar untuk kuliner. Atau ada anggota keluarga yang menuntut dan menganggapnya sebagai hak yang jika tidak terpenuhi merasa terdzalimi haknya. Atau merasa ada untaian kebahagiaan yang putus jika kuliner tidak dijalankan. Atau seorang ayah yang merasa bersalah hingga perlu minta maaf ketika minggu itu tidak keluar kuliner.

Bukankah saat seperti ini keadaannya, kuliner telah menjadi wajib?

Baiklah, apa masalahnya jika ia telah menjadi kebiasaan bahkan dirasa sebagai sebuah kewajiban. Bukankan manfaatnya begitu besar dan mahal bagi keluarga.

Mari kita simak pola makan Nabi teladan kita bersama keluarganya.

عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا، قَالَتْ: قَالَ لِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ذَاتَ يَوْمٍ «يَا عَائِشَةُ، هَلْ عِنْدَكُمْ شَيْءٌ؟» قَالَتْ: فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا عِنْدَنَا شَيْءٌ قَالَ: «فَإِنِّي صَائِمٌ»

Dari Aisyah Ummul Mu’minin radhiallahu anha berkata: Rasulullah shalallahu alaihi wasallam berkata kepadaku suatu hari,

“Hai Aisyah, apakah kamu punya sesuatu?”

Aisyah menjawab: Ya Rasulullah, kami tidak punya apapun.

Rasul menjawab, “Kalau begitu, aku puasa.” (HR. Muslim)

Ini bukan masalah kemiskinan atau kekurangan. Tapi ini masalah menyederhanakan urusan makan dan minum. Karena ini dilakukan juga oleh para sahabat lain. Sebagaimana yang disampaikan oleh Al Bukhari dalam salah satu judul babnya di dalam Kitabnya Shahih,

وَقَالَتْ أُمَّ الدَّرْدَاءِ: كَانَ أَبُو الدَّرْدَاءِ يَقُولُ: «عِنْدَكُمْ طَعَامٌ؟» فَإِنْ قُلْنَا: لاَ، قَالَ: «فَإِنِّي صَائِمٌ يَوْمِي هَذَا» وَفَعَلَهُ أَبُو طَلْحَةَ، وَأَبُو هُرَيْرَةَ، وَابْنُ عَبَّاسٍ، وَحُذَيْفَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ

Dan Ummu Darda’ berkata: Abu Darda’ berkata: Apakah kamu mempunyai makanan?

Jika kami jawab: Tidak ada, dia berkata: Kalau begitu aku puasa hari ini.

Hal ini juga dilakukan oleh Abu Thalhah, Abu Hurairah, Ibnu Abbas dan Hudzaifah radhiallahu anhum.

Nah, ternyata ini merupakan kebiasaan yang diajarkan Rasulullah kepada keluarga para sahabat. Dan diterapkan dengan baik di rumah para sahabat Nabi.

Apa hubungannya dengan budaya kuliner kita?

Ada kekhawatiran. Kebiasaan kuliner yang nyaris dianggap kewajiban membuat pola makan dan minum kita menjadi rumit dan sulit. Karena orang yang berkuliner biasanya cenderung mencari yang baru dari makanan dan minuman. Bahkan bukan hanya menunya. Tetapi cara makan dan cara minumnya. Tak hanya itu, suasana pun termasuk yang  dicari dan dikejar. Ketika makan di taman, pinggir kolam air sudah dianggap biasa, sebuah rumah makan menawarkan makan bersama singa.

Akhirnya, makanan dengan menu dan suasana ‘biasa’ di rumah menjadi sulit dinikmati.

Bukankah orangtua sering kesulitan membangkitkan selera makan anak-anaknya? Orangtua sering tidak sadar bahwa salah satu sebabnya adalah pola makan yang dibiasakan. Kalau kebiasaan itu tidak dilakukan, maka anak ngambek tak mau makan.

Suatu pagi menjelang siang, saya melihat seorang anak yang usianya baru sekitar lima tahun. Dia terlihat marah. Duduk dengan wajah lesu dan kecewa. Saya mendekatinya dan bertanya ingin tahu apa yang tengah terjadi. Sambil menunjuk-nunjuk makanan di meja dia tumpahkan kemarahannya, “Nggak begitu makanannya. Harusnya roti, susu, nugget....(dia terus menyebut daftar menu).”

Saya pun merengkuhnya dan saya katakan, “Nak, kalau kamu tidak mau makan makanan yang sudah tersedia, ya sudah tidak usah kamu makan. Ditinggal saja tapi tidak usah dihina makanannya. Sebab Rasul dulu kalau tidak suka sebuah makanan, tidak memakannya tapi tidak menghinanya.”

Begitulah dialog ringan saya dengan anak kecil itu.

Saya hanya khawatir, mengapa anak seusia itu terlihat begitu marahnya hanya karena masalah menu makanan. Jangan-jangan ini bukan hanya masalah selera. Tetapi masalah budaya makan yang rumit karena kuliner.

Silakan anda dan keluarga menikmati makanan dan minuman lezat. Tapi sudah waktunya kita membuat pola makan di keluarga kita sesederhana pola makan Rasulullah dan keluarganya.

Nikmati yang ada.

Jika tak suka, tidak usah dimakan tapi tanpa menghinanya.

Sederhana...

http://www.parentingnabawiyah.com/index.php/artikel--keluarga/anak-parenting/197-hati-hati-budaya-kuliner

Sabtu, 01 Maret 2014

Tutorial Boneka Tradisional Rusia ( tanpa jahitan)

Waktu kecil saya suka membuat boneka sendiri dengan cara menggulung dan mengikat kain perca menjadi boneka. Saya bisa bermain lama berjam-jam dengan saudara-saudara perempuan saya. Ternyata boneka tradisional rusia hampir mirip lho, mari buat bersama putri anda :)

http://babbledabbledo.com/how-to-make-a-doll/













sumber:  www.rukukla.ru  , yulech.livemaster.ru

Senin, 01 Juli 2013

Berpikirlah ulang sebelum Anda mengatakan sesuatu ...!


Seorang pemuda berusia 24 tahun melihat keluar dari jendela kereta berteriak ...

"Ayah , lihat pohon-pohon berlari menjauh!" Ayah tersenyum dan pasangan muda duduk di dekatnya, memandang aneh ke pemuda berumur 24 tahun yang berperilaku kekanak-kanakan , tiba-tiba ia berseru lagi ... "Ayah, terlihat awan yang berjalan mengikuti kita!" pasangan tidak bisa menahan diri dan berkata kepada orang tua pemuda itu ... 
"kenapa tidak Anda mengajak anak Anda ke dokter yang ahli? "orang tua
tersenyum dan berkata ... "saya sudah melakukannya dan kami baru pulang dari rumah sakit, anak saya buta sejak lahir, dia baru saja mendapat donor matanya hari ini ... "

Setiap orang di planet ini memiliki cerita.
"Jangan menilai orang-orang sebelum Anda benar-benar mengenal mereka. kebenaran mungkin mengejutkan Anda ...
berpikirlah sebelum Anda mengatakan sesuatu ...!


https://www.facebook.com/photo.php?fbid=501915076544451&set=a.393345764068050.90668.393340810735212&type=1&theater

Apakah Anda anggota "Kelompok 99"?

Pada suatu saat, hiduplah seorang Raja yang meskipun gaya hidup mewah tidak merasa bahagia .

Suatu hari, Raja melihat seorang pelayan yang bernyanyi riang sementara ia bekerja. Ini mempesona Raja, mengapa dirinya sang raja Penguasa Negri itu tidak merasa bahagia dan suram, sementara pelayan rendahan terlihat begitu bahagia.

Raja bertanya ke pelayan itu, 'Mengapa kau begitu bahagia?'
Pelayan  itu menjawab, 'Yang Mulia, saya hanyalah seorang pelayan, tapi saya dan keluarga saya hanya butuh sedikit sudah cukup. Cukup ada atap di atas kepala kami dan makanan hangat untuk mengisi perut kami'

Raja tidak puas dengan jawaban itu. Kemudian  dia meminta nasehat dari penasihat terpercayanya. Setelah mendengar kesengsaraan Raja dan cerita tentang sang pelayan tadi, penasihat berkata, "Yang Mulia, saya percaya bahwa pelayan tadi belum menjadi bagian dari Kelompok 99."
'Kelompok 99 apa sebenarnya itu? " Raja bertanya.
Penasihat itu menjawab, 'Yang Mulia, untuk benar-benar tahu apa Kelompok 99 tempatkanlah 99 koin emas dalam sebuah tas dan tinggalkan di depan pintu pelayan itu ".


Ketika pelayan itu melihat tas di depan pintu rumahnya, ia membawanya ke dalam  rumahnya. Ketika ia membuka tas, ia berteriak dengan sukacita ... Begitu banyak koin emas!
Dia mulai menghitungnya. Setelah beberapa kali menghitung, dia akhirnya yakin bahwa hanya ada 99 koin. Dia bertanya-tanya, 'Apa yang  terjadi dengan koin emas terakhir? Tentunya, tidak mungkin orang hanya meninggalkan 99 koin! '


Dia mencari kemana-mana yang memungkinkan satu koin lagi jatuh tertinggal,  Akhirnya, karena kelelahan mencari dan tidak mendapatkannya ia memutuskan bahwa ia akan harus bekerja lebih keras daripada sebelumnya untuk mendapatkan satu koin emas untuk melengkapi koleksinya.
Sejak hari itu, kehidupan pelayan itu berubah. Dia  bekerja keras , sering marah-marah, dan memarahi keluarganya untuk tidak membantunya mendapat koin emas yang ke 100. Dia tidak bernyanyi lagi ketika bekerja.

Menyaksikan perubahani drastis pelayan itu, Raja semakin bingung. Ia bertanya kepada penasihat nya apa yang terjadi, penasihat berkata, "Yang Mulia, sekarang hamba itu secara resmi bergabung dalam Kelompok 99."
Ia melanjutkan, 'Kelompok 99 adalah nama yang diberikan kepada orang-orang yang berkecukupan untuk menjadi bahagia, tetapi tidak pernah puas, karena mereka selalu rindu dan Berjuang keras untuk mendapatkan satu lagi yang dirasa kuarang. dan mengatakan kepada diri mereka sendiri: "aku akan berusaha mendapatkan satu hal terakhir dan kemudian saya akan hidup senang. "

Kita bisa bahagia, bahkan dengan sangat sedikit yang kita punya dalam hidup kita, tapi begitu kita diberi sesuatu yang lebih besar dan lebih baik, kami ingin lebih! Kita kehilangan waktu istirahat kita, kebahagiaan kita, kita menyakiti orang-orang di sekitar kita, semua ini sebagai harga untuk bertambahnya kebutuhan dan keinginan kita.

Itulah "kelompok 99"Apakah Anda anggota "Kelompok 99"

Minggu, 19 Mei 2013

Membuat bola Ninja yang bisa berubah-rubah bentuk

Anak-anak saya yang sekolah di SD sering membeli mainan dari balon yang bisa dibentuk-bentuk dengan meremasnya dan mengembalikan seperti semula, ternyata balon itu berisi tepung :)
Ini adalah modifikasinya menjadi bola ninja ini saya terjemahkan secara bebas dari http://frugalfun4boys.com/2013/05/02/ninja-stress-balls/

Ninja Stress Balls!

Untuk membuat mereka Anda akan perlu:


  • Balon - putih untuk wajah, dan warna lainnya untuk masker Ninja
  • Gunting
  • kantung plastik kecil kira-kira ukuran 1/4kg
  • Tepung
  • Bolpoin/spidol permanen

Langkah 1: Isi kantong dengan 3/4 cangkir tepung. Pkuntir kantong untuk menutup, dan mengeluarkan udara sebanyak mungkin. Mengisi kantong  jauh lebih mudah daripada mengisi balon langsung dengan tepung!
Ninja Stress Balls
Langkah 2: Potong ujung tempat meniup dari balon putih sehingga Anda yang tersisa dengan balon bulat dengan lubang. Masukkan kantong tepung ke balon.
Ninja Stress Balls
 Langkah 3: Potong ujung yang meniup balon lain. Potong lubang kecil untuk wajah Ninja. Kemudian, regangkan balon menyelubungi balon putih dengan lubang terbuka menghadap ke arah berlawanan (sehingga kantong tepung tidak bisa keluar). Tambahkan wajah Ninja dengan bolpoin/spidol permanen.

 Ninja Stress Balls


Ninja Stress Balls
siap dibentuk dan diremas

Membuat reaksi berantai dengan tongkat es krim



Cara membuat permainan seru ini ada disini http://frugalfun4boys.com/2013/05/13/build-a-chain-reaction-with-popsicle-or-craft-sticks/


Caranya:

Langkah 1: Susun 4 stik es krim ke dalam pola ini. Buat mereka terlihat persis seperti ini.

 Build an exploding chain reaction from craft sticks!

Langkah 2: Tambahkan tongkat lain di atas untuk mengamankan ujungnya. Tongkat ini harus melintang diagonal untuk menahan ujung tongkat horisontal atas dan tongkat vertikal . Jika tidak ditahan kedua akan turun, geser dua tongkat keluar sampai mereka berhasil ditekan oleh tongkat Anda tambahkan.
Build an exploding chain reaction with craft sticks
Foto ini selanjutnya juga menunjukkan ujung rantai tongkat ditambahkan.



  Langkah 3: Membangun rantai dengan menambahkan stik es krim, satu per satu untuk setiap sisi. Setiap tongkat harus melewati atas satu tongkat, dan di bawah satu tongkat.

Build an exploding chain reaction out of craft sticks

semakin banyak tongkat yang digunakan semakin panjang rantainya...semakin seru

selanjutnya silahkan lihat di http://frugalfun4boys.com/2013/05/13/build-a-chain-reaction-with-popsicle-or-craft-sticks/

Kamis, 25 April 2013

Nenek Penjual Tempe

Tuhan selalu punya jawaban atas doa seseorang. Jawaban doa itu bisa iya, bisa tidak, atau.. Tuhan punya rencana yang lebih baik untuk umat-Nya, seperti dalam kisah berikut ini.

Di sebuah pinggir kota, hidup seorang nenek yang hidup seorang diri. Untuk dapat menyambung hidup, nenek tersebut berjualan tempe setiap hari. Pada suatu hari, sang nenek terlambat memberi ragi, sehingga tempe tidak matang tepat pada waktunya. Saat daun pisang pembungkus tempe dibuka, kedelai-kedelai masih belum menyatu. Kedelai tersebut masih keras dan belum menjadi tempe.

Hati sang nenek mulai menangis. Apa yang harus dilakukan? Jika hari ini dia tidak bisa menjual tempe tersebut, maka dia tidak akan dapat uang untuk makan dan membeli bahan tempe untuk esok hari. Dengan air mata yang masih mengalir, sang nenek mengambil wudhu lalu salat Subuh di rumahnya yang sangat kecil dan memprihatinkan.

“Ya Allah, tolong matangkan tempe-tempe itu. Hamba-Mu tidak tahu harus berbuat apalagi untuk menyambung hidup dengan cara yang halal. Hamba tidak ingin menyusahkan anak-anak hamba. Kabulkan doa hamba-Mu yang kecil ini ya Allah..” demikian doa sang nenek dengan linangan air mata.

Setelah selesai salat Subuh, sang nenek membuka daun pisang pembungkus tempe, tidak ada satupun yang matang. Keajaiban belum datang, doanya belum dikabulkan. Tetapi sang nenek percaya jika doanya akan terkabul, sehingga dia berangkat ke pasar saat matahari belum bersinar, mengejar rezeki dengan menjual tempe.

Sesampai di pasar, sang nenek kembali membuka pembungkus tempe. Masih belum matang. Tak apa, nenek tersebut terus menunggu hingga matahari bersinar terik. Satu persatu orang yang berbelanja berlalu lalang, tetapi tak ada satupun yang mau membeli tempe sang nenek. Matahari terus bergerak hingga para pedagang mulai pulang dan mendapat hasil dari berjualan.

Tempe dagangan penjual lain sudah banyak yang habis, tetapi tempe sang nenek tetap belum matang. Apakah Tuhan sedang marah padaku? Apakah Tuhan tidak menjawab doaku? Begitulah rintihan hati sang nenek, air matanya kembali mengalir.

Tiba-tiba, ada seorang ibu yang menghampiri sang nenek. “Apakah tempe yang ibu jual sudah matang?” tanya sang pembeli.
Sang nenek menyeka air mata lalu menggeleng, “Belum, mungkin baru matang besok,” ujarnya.

“Alhamdulillah, kalau begitu saya beli semua tempe yang ibu jual. Dari tadi saya mencari tempe yang belum matang, tetapi tidak ada yang menjual. Syukurlah ibu menjualnya,” ujar sang pembeli dengan suara lega.

“Kenapa ibu membeli tempe yang belum matang?” tanya sang nenek dengan heran. Semua orang selalu mencari tempe yang sudah matang.

“Anak laki-laki saya nanti malam berangkat ke Belanda, dia ingin membawa tempe untuk oleh-oleh karena di sana susah mendapat tempe. Kalau tempe ini belum matang, maka matangnya pas saat anak saya sampai ke Belanda,” ujar sang ibu dengan wajah berbinar.

Inilah jawaban atas doa sang nenek. Tempe-tempe itu tidak langsung matang dengan keajaiban, tetapi dengan jalan lain yang tidak dikira-kira. Ingatlah sahabat, Tuhan selalu punya jawaban terbaik untuk doa umat-Nya. Kadang sebuah doa tak langsung mendapat jawaban. Kadang doa seseorang tidak dijawab dengan ‘iya’ karena Tuhan selalu punya rencana terbaik untuk hamba-Nya.

sumber: https://www.facebook.com/PeluangUsahaOfficial?ref=stream

Kamis, 11 April 2013

Reduce...Reuse...Recycle


Cari ide untuk mendaur ulang...ayo teman kita kurangi sampah di sekitar kita...ini beberapa ide yang bisa kita tiru
Tempat pensil ini terbuat dari : selongsongan lakban (adesive tape) yang sudah habis, kardus susu bekas untuk alas , keyboard rusak dan sedikit kain felt hitam, ditempel dengan lem tembak.

Helikopter yang terbuat botol minuman anak bekas dan sedotan.

Keranjang dari tas plastik belanja (kresek) yang di kepang dan dijahit .

Macam-macam kegunaan ban bekas: keranjang sampah, genting, campuran aspal jalanan , pot bunga dll

keranjang sampah dari tutup botol plastik

toples dari majalah bekas





Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...