Senin, 14 November 2011

Putri Raja dan Gadis Desa

Boneka Tangan yang dipakai: Putri, Ratu, pengasuh, anak perempuan, ayah, ibu.




boneka tangan kerajaan /set
by tsabitaboneka
Billa sering melihat putri Safira berjalan-jalan di taman bunga bersama pengasuhnya. Dari jauh Billa selalu memperhatikan putri Safira yang cantik dan selalu memakai gaun yang indah. Dan bila ingin berpergian, ada kereta kuda yang siap mengantarkannya . Billa yakin, kalau makanan Safira pun pasti selalu lezat rasanya. Sebenarnya wajah Billa dan putri Safira agak mirip cuma putri Safira selalu bersih dan wangi beda denga penampilan Billa yang lusuh.




boneka tangan fullbody
anak perempuan
by tsabitaboneka

“hmm, aku tak suka pada Safira”, ujar Billa kepada dirinya sendiri. Ia merasa iri akan nasib mujur Safira yang dilahirkan sebagai putri raja. “ia memiliki begitu banyak benda yang indah”, pikir Billa, “sedangkan aku tak punya apa pun. Uh, aku benci padanya!”

 Pada suatu hari, Billa melihat putri Safira berlari mendekatinya. Ia sendirian. Billa heran, biasanya Safira selalu ditemani pengasuhnya. Ketika sampai di dekat Billa, Safira berhenti sambil tertawa. “tahukah kamu?” katanya. “pengasuhku tertidur. Aku lari dan meninggalkannya. “Bagaimana kalau kita bermain-main?”
Billa tak tersenyum sedikit pun. Dipandangnya gaun Safira yang indah dengan sangat iri. Kemudian, dipandangnya gaunnya sendiri yang terbuat dari bahan kasar berwarna merah.
boneka tangan keluarga indonesia halfbody by tsabitaboneka

“aku tak mau bermain denganmu”, ujar Billa kasar. “nasibmu sangat mujur, kau punya segala sesuatu, sedang aku sama sekali tidak!, kau putri raja, sedangkan aku Cuma gadis desa!”.
“ ah, menjadi putri raja bukanlah sesuatu yang menguntungkan!”, seru Safira. Ia sangat heran bahwa Billa menganggapnya mujur menjadi putri raja. “apakah kau anggap, ke mana-mana harus ditemani pengasuh itu suatu yang menyenangkan? Oh, aku ingin bisa pergi sendiri tanpa dibuntuti pengasuh! Bosan rasanya harus duduk berjam-jam di tengah pesta pora dengan makanan dan minuman lezat!. Ayah dan ibuku setiap hari sibuk, dan tidak pernah sempat bermain denganku, dan mengantarkan ku tidur pada malam hari! Apakah nasib seperti itu kau anggap mujur?”

“apalagi aku! Aku gadis desa yang miskin! mujurkah nasib sepertiku ini?” Tanya Billa. “aku harus mengasuh adikku yang masih bayi. Kamarku sempit dan bau, itu pun harus kutempati bersama adik perempuanku. Setiap hari aku harus membantu ayah di ladang. Lalu, aku harus pula membantu ibu membuat roti dan kue.”
Boneka tangan putri
by tsabitaboneka

“oh, betapa senang aku jadi kau,” kata Safira. “koki di istana terlalu resmi. Aku sama sekali tak boleh menjenguk dapur. Jadi, rupanya nasib kita sama saja bukan? Bagai mana kalau kita bertukar tempat sebentar, aku jadi kau dan kau jadi aku, setuju?”
Billa tak bisa menolak usul Safira. Diapun meminta ijin ke Ayah ibunya bahwa Safira akan menginap, Billa merahasiakan bahwa Safira adalah seorang putri raja hanya dikatakan Safira teman mainnya. Dalam sekejap, Billa telah mengenakan pakaian Safira dan Safira mengenakan pakaian Billa. Safira bermain dengan adik Billa yang masih bayi. Ia sangat menyukai bayi. Di istana tak ada seorang bayi pun .Dan Safira membantu orangtua Billa dengan sukacita.

Tiba-tiba pengasuh Safira datang. Wajahnya merah padam penuh amarah. Ketika melihat Billa, ia langsung mengira bahwa Billa adalah Safira. “dasar putri nakal! Kau berani lari meninggalkanku,ya?!” serunya. “awas! Sore nanti sebagai hukuman tak boleh mencicipi kue!”. Billa agak diseret kembali ke istana. Pengasuh itu sangat disiplin, malah jauh lebih disiplin daripada ibu Billa. Setiap kali,ada-ada saja yang dicelanya pada Billa. “jangan makan dengan sikut di atas meja! Jangan bicara waktu mulut masih penuh! Mengapa rambutmu? Begitukah seharusnya sikap seorang putri? Awas, kulaporkan kau kepada ratu!”

Ketika ratu singgah sebentar di tempat bermain anaknya, si pengasuh segera melaporkan segala kenakalan dan kesalahannya. “oh, betapa nakalnya kau, Safira!” bentak ratu. “tak tahukah kau bahwa belajar bersikap anggun itu sangat penting bagi seorang putri? Pengasuh, mempersiapkan Billa secantik-cantiknya untuk pesta nanti malam. Tapi ingat, kau hanya boleh memakan pudding susu, sebab makanan yang lainnya tak baik untuk anak kecil. Kau dengar itu?”
boneka tangan ratu
by tsabitaboneka

Pengasuh memandikan Billa lalu mendandaninya. Berkali-kali ia membentak Billa. “berdiri yang tegak! Nah, sekarang tunjukkan kepadaku bahwa kau bisa membungkuk dengan anggun. Astaga! Kau melakukannya seperti belum pernah diajari saja!”
Billa tak sabar menunggu pesta besar itu, tetapi, oh betapa membosankan pesta itu! berjam-jam lamanya Billa menunggu pesta itu berakhir, dan selama itu dia harus duduk tegak dan diam dengan anggun. Lalu, ketika tiba acara makan malam, ia tidak diperbolehkan makan apapun selain pudding susu.
Pengasuhnya mengingatkannya yang boleh dimakan. “aku ingin kue selai” Billa berkata keras. Ratu sangat terkejut. “bawalah dia ke tempat tidurnya” kata ratu. “mungkin ia lelah dan tidak enak badan”.Pengasuhnya segera menyeret Billa keluar dari ruang pesta. Setelah memarahinya, pengasuh itupun menyuruh Billa tidur. Billa menangis. Ratu tak datang ke kamarnya mengucapkan selamat tidur , bahkan Ratu tidak menyadari bahwa Billa bertukar peran dengan Safira. Billa merasa kesepian , ia rindu keluarganya.
“ah, aku tak suka menjadi putri raja” pikir Billa. “ternyata tidak seperti yang kubayangkan. Betapa bosannya hidup Safira di istana. Aku akan pulang, dan Safira harus segera kembali ke istana”.
boneka tangan raja
by tsabitaboneka

Billa menyelinap keluar dari kamarnya melalui jendela. Kemudian ia berlari-lari menyebrangi halaman istana. Beberapa saat kemudian, sampailah ia di gubuk tempat pohon apel dekat jendela kamarnya, lalu ia pun melompat masuk melalui jendela. Perlahan-lahan ditepuknya bahu Safira.
Safira terbangun. Ia berbaring memeluk adik Billa yang gemuk dan lucu. Melihat Billa, Safirapun cepat-cepat bangkit. “aku kembali” bisik Billa. “cepat pakailah pakaianmu dan kembalilah kau ke istana”. “tidak! Aku tak mau!” kata Safira cepat. “aku lebih senang tinggal di rumahmu. Ibumu sangat baik begitu juga ayahmu walaupun dia tidak tahu aku putri raja”. “tidak, ayo bangunlah!”. “Tapi kau iri padaku?” kata Safira. “tidak, aku bodoh merasa iri terhadapmu, Safira. Itu Cuma membuat hatiku jengkel dan pendengki. Padahal kamu baik. Aku ingin kembali ke rumahku sendiri.”balas Billa.
“baiklah” kata Safira akhirnya. “aku mengerti kau takkan mau mengorbankan rumahmu. Bolehkah sesekali datang kesini dan bermain-main dengan adikmu?”. “tentu saja boleh”, kata Billa. Sejak saat itu Billa dan Safira bersahabat. Mereka bermain bersama bila Safira menyelinap ke luar istana tanpa sepengetahuan pengasuhnya.

Tidak ada komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...